Selamat Tinggal, Bidadari

Selamat Tinggal, Bidadari

Senin, 13 Mei 2013

Kenali Masa Kecil


Ketika kecil, beragam kejadian membekas dalam benakku. Tidak pernah dirasa batasan ruang bermain kudatangi. Bersekolah disekolah negeri yang selalu membaurkan semua tingkatan sosial dan latar belakang orangtua murid yg beragam, membukakan hatiku untuk memahami perilaku orang dari tingkatan-tingkatan yg berbeda. Perhatian terhadap orang-orang yg berlatar belakang berkecukupan, berkelebihan, berkekurangan membuat pemahaman-pemahaman yg terbawa hingga aku dewasa kini.
Entah dimulai dari mana, hingga kini terbekas kebencian terhadap orang-orang kaya. Mungkin karena gaya mereka kentara sekali bedanya dan gaya mereka tidak bisa kusamai dengan apa pun. Mungkin lain pemahamanku bila dulu aku bisa menyamai atau melebihi atau mengabaikan mereka.
Bapak banyak memberi "jembatan" untuk kucoba menngabaikan kesenjangan-kesenjangan yg kuhadapi, tapi jauh didalam hati terekam banyak ucapan dan perlakuan buruk terhadapku berkaitan dengan ketidak mampuanku menyamai dalam hal materi dengan orang-orang 'kaya'.
Sekarang pun sebetulnya aku tidak terlalu peduli dengan sikap mereka yang semakin jelas nampak akibat mudahnya memperoleh simbol-simbol yang (dianggap) bisa mewakili kemampuan mereka, termasuk bagaimana cara mereka berbicara yang nampak sekali ingin merendahkanku. Aku bisa mengabaikan mereka karena belakangan aku pun menjumpai simbol-simbol yang "disalahgunakan" untuk mendongkrak derajat mereka dimasyarakat. bahkan aku juga banyak bersahabat dengan orang-orang yang kuat secara sosial dan ekonomi namun pembawaannya selalu santun dan cenderung menyembunyikan simbol-simbol (material dan spiritual) yang sebetulnya memang pantas mereka perlihatkan.
Menghormati semua orang tanpa melihat apa yang dia punya, atau mendengar perkataan orang bukan karena siapa yang mengucapkannya, melainkan 'apa' yang dikatakannya, terasa bijak dipahami meskipun sulit dalam prakteknya - terutama dijaman yang mengedepankan simbol seakan memaksa orang  untuk mengerti ucapan dan sikap orang-orang bersimbol palsu.
Ketidak sukaanku pada orang kaya, yg kemudian merasa pantas untuk sombong karena bekerja di profesi-profesi yang terhormat apalagi yang kebetulan lahir dari keluarga bangsawan tiba-tiba muncul kembali ketika suatu saat mereka mengharuskan aku untuk menuruti kemauan mereka dengan cara yang tidak sopan dan sepihak, mengabaikan smsku, tidak pernah komen di status FB, tidak mengangkat telepon ketika aku menghubunginya, apalagi meneleponku rasanya sudah jadi sebuah kemustahilan. Ketika mendapati mereka kebetulan masih saudara, terbersit dalam hati; mungkin mereka serius ingin memutuskan tali persaudaraan.

Ah... siapa sih aku ini? bahkan bila file dan riwayat hidupku dihapus pun tidak akan ada yg merasa kehilangan. Aku tidak pernah menguntungkan siapa pun, tidak pernah membanggakan siapa pun, tidak pernah membuat siapa pun merasa bahagia... - mungkin itu yg mereka pikir.