Selamat Tinggal, Bidadari

Selamat Tinggal, Bidadari

Jumat, 19 Juni 2015

Serial Film buatan India untuk Masyarakat Indonesia



Cerita yang sarat dengan filsafat ini dihadirkan lagi dengan tehnik baru, tambahan-tambahan kecil disela cerita utama membuat serial buatan Starplus ini menjadi lebih enak ditonton. 


Deretan pemeran yang mempunyai figur lebih populer membuatnya mudah diterima di masyarakat Indonesia, ganteng, cantik, gagah dan sesuai dengan karakter yang ingin dibangun si sutradaranya. Selebihnya adalah interpretasi penonton yang mungkin sudah kepincut dengan karakter-karakter yang dibangun dalam serial Mahabharata sebelumnya - mengingat serial Mahabharata ini sudah dibuat dengan banyak versi.


Sebagai kelanjutannya, para pemain ini diundang ke tanah air... Mulanya dengan pertunjukan yang dibuat dengan latar belakang serial Mahabharata. Sebuah stasiun tivi yang menayangkan serial ini membuat pertunjukan-pertunjukan yang membuat masyarakat Indonesia yang menyukai serial ini berbondong-bondong menjejali gedung tempat para pemeran serial Mahabharata ini tampil untuk jumpa penggemar di beberapa kota besar di Indonesia.




Entah disengaja atau terjadi kesalahan dalam pengarahan...
Mungkin juga karena pendalaman yang kurang atas cerita epos yang begitu melimpah dengan ajaran kemanusiaan, filsafat, tata negara, ekonomi, dll. dari para pembawa acara/ host di setiap road-show. Akibatnya para pemeran tokoh-tokoh besar dalam cerita (yang banyak dianggap sebagai ajaran) dibuat seperti badut berkostum India. 
Mungkin penyelenggara di Indonesia memang tidak memilih untuk menguatkan pesan-pesan yang ada dalam serial ini, Memilih segi hiburan untuk disajikan dihadapan publik penggemar serial Mahabharata dianggap akan lebih menguntungkan - toh cerita Mahabharata ini sudah banyak dikenal di Nusantara sejak dulu. 


Cukup demikian saja. Mudah-mudahan maksudnya bisa dimengerti.  :)

Senin, 13 Mei 2013

Kenali Masa Kecil


Ketika kecil, beragam kejadian membekas dalam benakku. Tidak pernah dirasa batasan ruang bermain kudatangi. Bersekolah disekolah negeri yang selalu membaurkan semua tingkatan sosial dan latar belakang orangtua murid yg beragam, membukakan hatiku untuk memahami perilaku orang dari tingkatan-tingkatan yg berbeda. Perhatian terhadap orang-orang yg berlatar belakang berkecukupan, berkelebihan, berkekurangan membuat pemahaman-pemahaman yg terbawa hingga aku dewasa kini.
Entah dimulai dari mana, hingga kini terbekas kebencian terhadap orang-orang kaya. Mungkin karena gaya mereka kentara sekali bedanya dan gaya mereka tidak bisa kusamai dengan apa pun. Mungkin lain pemahamanku bila dulu aku bisa menyamai atau melebihi atau mengabaikan mereka.
Bapak banyak memberi "jembatan" untuk kucoba menngabaikan kesenjangan-kesenjangan yg kuhadapi, tapi jauh didalam hati terekam banyak ucapan dan perlakuan buruk terhadapku berkaitan dengan ketidak mampuanku menyamai dalam hal materi dengan orang-orang 'kaya'.
Sekarang pun sebetulnya aku tidak terlalu peduli dengan sikap mereka yang semakin jelas nampak akibat mudahnya memperoleh simbol-simbol yang (dianggap) bisa mewakili kemampuan mereka, termasuk bagaimana cara mereka berbicara yang nampak sekali ingin merendahkanku. Aku bisa mengabaikan mereka karena belakangan aku pun menjumpai simbol-simbol yang "disalahgunakan" untuk mendongkrak derajat mereka dimasyarakat. bahkan aku juga banyak bersahabat dengan orang-orang yang kuat secara sosial dan ekonomi namun pembawaannya selalu santun dan cenderung menyembunyikan simbol-simbol (material dan spiritual) yang sebetulnya memang pantas mereka perlihatkan.
Menghormati semua orang tanpa melihat apa yang dia punya, atau mendengar perkataan orang bukan karena siapa yang mengucapkannya, melainkan 'apa' yang dikatakannya, terasa bijak dipahami meskipun sulit dalam prakteknya - terutama dijaman yang mengedepankan simbol seakan memaksa orang  untuk mengerti ucapan dan sikap orang-orang bersimbol palsu.
Ketidak sukaanku pada orang kaya, yg kemudian merasa pantas untuk sombong karena bekerja di profesi-profesi yang terhormat apalagi yang kebetulan lahir dari keluarga bangsawan tiba-tiba muncul kembali ketika suatu saat mereka mengharuskan aku untuk menuruti kemauan mereka dengan cara yang tidak sopan dan sepihak, mengabaikan smsku, tidak pernah komen di status FB, tidak mengangkat telepon ketika aku menghubunginya, apalagi meneleponku rasanya sudah jadi sebuah kemustahilan. Ketika mendapati mereka kebetulan masih saudara, terbersit dalam hati; mungkin mereka serius ingin memutuskan tali persaudaraan.

Ah... siapa sih aku ini? bahkan bila file dan riwayat hidupku dihapus pun tidak akan ada yg merasa kehilangan. Aku tidak pernah menguntungkan siapa pun, tidak pernah membanggakan siapa pun, tidak pernah membuat siapa pun merasa bahagia... - mungkin itu yg mereka pikir.

Rabu, 26 Desember 2012

Rindu Habitat



Kami menamakan kelompok kami dengan 'habitat' - istilah ini biasanya dibapakai untuk sekelompok hewan liar atau tetumbuhan khas. Kami merupakan kumpulan orang2 yang mempunyai beragam tingkatan hidup dan tingkatan pengalaman yang berbeda-beda dalam satu tujuan yang kadang-kadang terlalu absurd dan naif. Habitat ini nampak eksklusif dan begitu berbeda dengan habitat-habitat lain yang eksis.Bertahun-tahun kami merangkai beragam ide dan pandangan-pandangan tentang masyarakat dan budaya di nusantara dengan keyakinan bahwa disana masih banyak saudara-saudara yang sepemikiran dalam memperkaya Nusantara dengan semangat dan dasar ideologi yang kokoh.
Mengenal saudara se-habitat yang beragam namun berusaha untuk saling mengerti dan saling mendorong saudara-saudara kita untuk memajukan diri dengan kelebihannya dan memperkuat bathinnya dengan kekurangannya adalah kegiatan positif - bagi saya - yang dilakukan setiap saat dengan rekan sesama habitat.

Umumnya habitat dikenal dengan komunitas, mungkin juga ada bedanya, tapi kurang-lebih begitu. Keluar dari habitat - yang ditemukan dalam runtutan beragam kegiatan semenjak kanak-kanak - seharusnya jadi petualangan yang  mengasyikan.

Sekarang saya harus merasakan sebentuk habitat (yang lain), atau habitat yang baru, meskipun  habitat ini sudah merasa saya sebagai bagian dari habitat ini  - karena ada hubungan keluarga, hubungan dekat atau hubungan yang rumit - namun tentu saja saya pun sebelumnya telah melewatkan banyak masa dalam mencapai saat sekarang. Perbedaan pengalaman atau tingkatan hidup terasa seperti benturan sedang mendekat. 'Kelebihan' terasa akan terkikis, 'kekurangan' kemudian akan menenggelamkan seseorang dalam sudut yang jauh. Komunitas apa ini?

Orang umumnya menganggap hal ini sebagai seleksi alam, dan kita harus luwes sekaligus kuat untuk menghadapinya. Tapi bagaimana bila banyak hal negatif (menurut pandangan habitat sebelumnya) dalam habitat kita yang baru?. Tentunya kita melihat akan ada sebuah benturan di depan sana. Atau mudah-mudahan hanya berupa singgungan atau gesekan kecil saja. Tapi, apakah saya harus mempertahankan pandangan dan sikap saya?


Jumat, 01 Juli 2011

Pulang

Suatu siang, September 2006, saya menjejakkan kaki di desa ini, katanya saya pulang. "Pulang ?", pertanyaan dan keyakinan yang penuh ragu. Desa ini memang tempat saya dilahirkan, dan semua sanak keluarga bapak dan ibu saya sebagian besar tinggal di desa ini. Lalu karena itukah mereka menyebut saya 'pulang'?
40 tahun yang lampau, waktu itu belum genap setahun umur saya, sewaktu Bapak membawa kami sekeluarga ke pulau Jawa, hingga bertahun-tahun setelah saya lulus kuliah di Bandung baru saya pulang ke desa ini, mencoba menterjemahkan kata 'pulang' yang sebenarnya.
Disini tidak ada ibu, bapak dan semua kakak kandung saya, tapi mereka disini mengaku sebagai ibu saya, bapak saya, kakak, adik, keponakan... sekali lagi saya harus menterjemahkan arti kata-kata sandang itu... - Mereka memang yang mereka maksud.
Pulang, rumah ini memang tempat kami keluarga berkumpul bila sedang berlibur ke pulau Bali, tapi saat ini mereka tidak ada, biasanya saya melihat kakak-kakak saya bercanda tawa di halaman, diteras rumah, ada ibu yang sibuk di dapur dan bapak yang asyik ngobrol dengan teman-teman seperjuangannya. Tapi saat ini suasana 'rumah' itu sudah menjadi peristiwa yang amat langka dan mahal harganya.
Sekarang sudah hampir 5 tahun tinggal di rumah ini - bertahun tahun merantau di rumah sendiri.. tanpa teman seperjuangan, teman sekolah, teman sepermainan, teman diskusi - mereka semua hanya terhubung di dunia maya, sementara di dunia nyata saya betul betul berada didunia yang lain..
Suasana desa, pertanian, kebun coklat, isteri, anak..... wuihhh, bila ini dunia nyata, apakah sebelumnya saya ada dialam mimpi? atau sebaliknya??

Komang Sekardhani


pencil on paper, photoshop and her blood.

Selasa, 07 Juni 2011

Joged Sampe Pagi

Sudah bukan rahasia lagi, Bali adalah tempat pesta, hampir setiap sudut di Kuta selalu ada Pub yang buka sampai pagi, dalam gambar ini contoh sebuah pub yang buka sampe jam 10 pagi (sudah hampir siang) . Pub n diskotik di kawasan Seminyak ini terbuka untuk umum, entah darimana saja mereka ini yg jelas mereka sedang asyik bergoyang dan goyang terus sampai sekuriti menghentikan mereka, menyalakan lampu utama diruangan dan membuka lebar semua korden dan jendela untuk membuktikan bahwa matahari sudah naik tinggi. Akhirnya mereka - yang bukan cuma orang asing - keluar dengan berdesak-desakan sambil memicingkan mata karena silau oleh cahaya matahari.

Senin, 16 Mei 2011

Ilustrasi Klasik

Beberapa drawing yang saya kirimkan berupa ilustrasi dari cerita rakyat Bali dan dari kesehariannya, setiap image mempunyai kisahnya masing-masing,  yang saya tuangkan dalam bentuk  gambar garis. Drawing dalam bentuk ini memang berkesan murahan dan sangat sederhana bila kita membandingkan-nya dengan  jenis ilustrasi lain yang kita jumpai  saat ini.
Ilustrasi dalam bentuk drawing adalah bentuk visualisasi yang digunakan dalam media – umumnya cetak – untuk membantu orang dalam memperkuat isi tulisan atau cerita. Ilustrasi biasanya dibuat oleh ilustrator setelah membaca dan kemudian menginterpretasikan isi tulisan menurut gambaran (vision) yang didapat oleh si ilustrator untuk kemudian digambarkan (visualisasi) menurut visi yang didapat sesuai dengan kemampuan ilustrator. Saat ini, ilustrasi sudah berkembang dengan sangat beragam, selain ilustrasi verbal atau lugas seperti ini ada juga ilustrasi yang dibuat abstrak, ini dibuat ketika ilustrator mendapat kesan yang lebih kuat pada saat dia membaca tulisan yang dibacanya.
Teknik pembuatan ilustrasi pun saat ini berkembang dengan menggunakan program-program komputer. Jika jaman dulu orang menggunakan kuas , tinta, kertas dan kanvas dalam membuat ilustrasi, saat ini ilustrator bisa mengerjakannya dengan bantuan scanner, foto digital dan aplikasi photoshop, 3D Max, coreldraw, dll. Dengan bantuan peralatan ini diharapkan illustrator dapat mencapai visualisasi yang diinginkannya.
Ilustrasi digunakan juga untuk iklan, reklame dan propaganda. Dengan perkembangan senirupa dan desain visual tersebut, sekarang ilustrasi banyak digunakan bukan untuk keperluan visualisasi cerita atau penulisan-penulisan ilmiah, namun juga digunakan untuk tujuan-tujuan komersial yang lebih menguntungkan seperti untuk iklan dan reklame, bahkan visualisasinya pun sudah tidak hanya dengan 2 dimensional, melainkan sudah berdimensi multimedia, sehingga kalangan penikmat ilustrasi saat ini semakin luas dan global.
Ilustrasi klasik saat ini berada disisi yang sangat unik, “dia” masih dikenal dan digunakan namun ‘pamor’nya nyaris dikalahkan oleh gemerlapnya visual multimedia dan komputerisasi. Karena kerumitan dan penggambaran visi yang memerlukan waktu lebih panjang dibanding  ‘menggambar’ dengan bantuan komputer, atau peralatan canggih yang saat ini semakin umum. Dan bila terjadi kesalahan penggambaran memerlukan waktu lebih panjang lagi untuk mengulangnya dari awal.
Kemudian, inilah ilustrasi klasik yang saya bawa ke beranda Rumah Indonesia, untuk mencoba menampilkan kisah/ cerita rakyat yang pernah dibuat di Bali dalam bentuk 2 dimensi. Ilustrasi2 ini dibuat pada tahun 2000, saat ini saya masih membuat ilustrasi, beberapa ilustrasi saya sempat juga menjadi ilustrasi cerpen di Kompas Minggu.
Saya masih ingin membuat ilustrasi lebih banyak lagi, saat ini saya sedang membuat ilustrasi berdasarkan kehidupan masyarakat di Bali. Masyarakat Bali dikenal dengan keunikan budayanya, namun didalamnya masih banyak hal2 yang lebih unik lagi yang lahir dari keluguan  masyarakat Bali